![]() |
|
|
.:: Surat dari Lapangan ::.
Oleh : Merry Djami Siang menjelang sore, pada Rabu 11 Januari itu ibarat mengisyaratkan semua orang yang lelah setelah sibuk bekerja menunggu, mengangkat barang, mengatur barang, menyetir, meneriakan aba-aba, berjalan kesana kemari mengurusi segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pemindahan, memberikan penjelasan, menenangkan warga yang panik, memotret, menelfon, untuk beristirahat sejenak menunggu lanjutan kegiatan pemindahan pada esok hari, Kamis tanggal 12. Pukul 11. 30 wita, kegiatan pemindahan selesai. Memang lebih awal dibandingkan dengan kemarin karena keluarga yang menunggu pindah hanya tersisa 7 (tujuh). Tim relawan yang bertugas kini bisa bernapas lega karena punya waktu untuk berpikir hal yang lain tanpa beban. Namun masalah belum selesai, kenyataannya kondisi 50 keluarga ini cukup memprihatinkan. Mereka sudah dapat rumah baru, yang kalau mau dibilang modelnya lebih baik dari rumah lama mereka waktu masih di kamp. Tapi rumah baru saja tidak menjamin mereka hidup layak karena dapur mereka relatif tidak bisa mereka andalkan dalam menjalani waktu-waktu menunggu penanganan lanjutan. Sudah semestinya setiap keluarga yang mengikuti program relokasi pemerintah, memperoleh hak dan kesempatan untuk menerima jaminan hidup selama 6 (enam) bulan. Mereka akan menerima hak itu setelah beberapa minggu menempati rumah di relokasi, belum ada penentuan tanggal realisasi yang pasti dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial. Clara mempunyai empat anggota keluarga, bersamanya ada Carlos Soares sang suami, Brigina Besaung tantenya, Marsel dan Marselina kedua anaknya yang masih balita. Clara sudah mengenal saya, Ape, Sally dan Robby semenjak ia dan keluarganya masih tinggal di kamp Tuapukan. Sejak memutuskan untuk mengakhiri hidup di kamp dengan pindah ke pemukiman lokal Raknamo, ia selalu mengingatkan saya dan Robby untuk tidak hanya fokus pada pendataan dan pemindahan tapi juga perlu memikirkan soal pangan. Beberapa kepala keluarga juga memberikan catatan yang sama. Namun pada saat kegiatan pemindahan semua orang larut dalam hiruk pikuk kesibukan, Clara tidak demikian, ia terus getol mengingatkan kami bahkan sikapnya cenderung mengisyaratkan tuntutan. "Meri tidak bisa hanya kasih pindah kami saja, kaliang harus kasih makan kami, kalo kami oran besar bisa tahan lapar tapi anak-anak bagaimana. Kemaring ada nasi bungkus, ini hari tidak ada! Pokoknya Meri harus perhatikan kami !" Teman-teman lain seperti Vecky, Sally dan None juga ia temui dengan tuntutan yang sama. Saat itu hari kedua ia tinggal di Raknamo. Pada hari ketiga hal yang samapun terjadi, kini suaminya juga tidak mau kalah, turut serta menggelar tuntutan. Hari keempat, Clara terus menunggu kalau-kalau ada motor yang biasa dipakai relawan muncul di sana. Sikap Clara kami nilai sangat rewel dan menjengkelkan. Berbagai penjelasan dengan suara tinggi dan permohonan untuk bersabar kami lakukan agar ia bisa diam. Jujur saya pribadi merasa sangat terganggu, seandainya kami adalah lembaga yang kaya ,......tapi saya merasa tidak berdaya menghadapinya. Hari kesembilan tiba, kali ini bukan lagi Clara, bukan juga Carlos, tapi yang lain, ada Manuel, Maria, Eva, Alfonso, Dominggus, Julio dan lainnya. Mereka tidak sekeras Clara dan Carlos, mereka cukup santun menceritakan keadaan sebenarnya. "Kemaring sore saya deng Adrianus minta beras di kepala dusun, kami dapat empat kilo, tapi saya hanya dapat stenga, Adrianus ambil tiga stenga, saya jengkel dengan dia," cerita Manuel pada saya dan Robby di rumah mama Maria. Waktu itu saya minta ijin menggunakan kamar kecil di rumah mama Maria, naas waktu keluar dari kamar kecil saya digigit anjing peliharaan mama Maria, terpaksa saya harus masuk untuk meringankan rasa sakit akibat gigitan itu, tidak berdarah tapi bengkak sedikit di bawah pantat kiri. Anak mama Maria sedang sakit, batuk dan kepala, sudah tiga hari hanya tidur saja. Robby datang membawa minyak tawon dan kami berkumpul di situ. Manuel ada situ sejak mendengar saya digigit anjing. Hari kesepuluh kami berada di sana, kali ini kami melihat langsung sebagian dari mereka makan kacang hutan. Proses olahnya sangat lama, harus direbus empat sampai lima kali. Kami membawa obat parasetamol dan bintang tujuh untuk anak mama Maria, ternyata kami juga menemukan orang sakit lainnya, ada anak balita yang sangat kurus, tujuh bulan usianya dengan berat hanya enam kilogram, ada juga anak lain yang kasat mata dapat diduga menderita gisi buruk. Seorang anak laki-laki terbaring lemas, Anastasio namanya berumur tujuh tahun. "Sudah lima hari tidak mau makan," kata bapaknya dengan nada lemas. Anastasio tidur di lantai beralas tikar lusuh dan berdebu, tubuhnya kurus sekali, rusuknya menonjol jelas, perut kempes dan kulitnya pucat. Saya bersama Robby meminta ijin pada bapaknya untuk berdoa. Kami berdoa bersama pada siang itu. (Posting, Kupang, *** |
CIS Timor web counter |