|
Kisah yang di tinggalkan
media @ 5:51 AM
 Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main Voli dan semua keluarga berkumpul disini. Jalan yang kami lewati menuju lokasi itu masih berbatu. Disisi kiri dan kanan jalan berdiri megah rumah-rumah milik warga yang tinggal di tempat itu. Hanya 10 meter jaraknya dari ruas jalan utama, truk yang akan mengangkut barang dua KK yang akan pindah ke Bortetuk berhenti. Saya dan None bergegas turun dari truk dan menghampiri beberapa warga yang siang itu terpaksa bernaung dibawah terik matahari karena rumahnya telah dibongkar. Tidak jauh dari tempat itu tiga orang laki-laki sementara duduk menikmati sebotol sopi (minuman beralkohol khas timor) dan satu jerigen lima liter yang berisikan laru putih, mereka asik berceritra dalam bahasa mereka yang tidak dimengerti oleh saya dan None. Kami dipersilahkan duduk ditempat yang masih kosong, dan ceritra awal dalam dua bahasapun dimulai. Saya dan none bersama dua orang laki-laki lainnya berceritra dalam bahasa Indonesia sedangkan mereka yang lain terus berceritra dalam bahasa itu. Muat bebak duluan, teriak seorang laki-laki setengah baya yang berada tidak jauh dari kami sehingga membuat pandangan kami berpaling kepadanya dan ceritra dalam dua bahasa itu berhenti sejenak. Tanpa menunggu teriakan yang kedua kalinya empat orang anak muda sudah berdiri disekitar tumpukan bebak itu dan langsung memindahkannya keatas truk. Bersamaan dengan itu ceritra dalam dua bahasa itu terus berlanjut. Proses memindahkan barang-barang yang berserakan dipinggiran jalan dan ceritra dalam dua bahasa terus berjalan hingga akhirnya harus berakhir karena truk yang mengangkut barang itu sudah sarat dengan barang dan orang-orang yang akan pindah. Truk siap berangkat dan itu berarti satu KK berkurang. Sebelum truk itu berangkat meninggalkan lokasi itu, muncul satu truk lagi dengan fungsi yang sama. Dan berkurang lagi satu KK. Derai air mata tidak dapat dibendung tatkala truk harus berangkat meningalkan lokasi itu. Dan itu berarti mereka harus meninggalkan tempat itu, meninggalkan kenangan yang sudah terjalin tujuh tahun lamanya, kenangan yang indah dalam ikatan keluarga besar kecamatan Bobonaro. Masih terbayang dalam ingatan Baltasar Guteres selaku koordinator kamp Sukaerkolam, kenangan masa lalu tatkala masih lengkap 70 anggota keluarga. Ia hanya bisa berucap dengan mata menerawang jauh. Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main Voli dan semua keluarga berkumpul disini. Lapangan voli yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami menjadi saksi bisu bagaimana suasana waktu dulu. Atau ruas jalan ini menjadi saksi ketika mentari mulai kembali ke peraduan dan warga berkumpul ditempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Namun semuanya itu tinggal kenangan Berawal dari kalender yang digantung dirumah itu sudah dibalik dan muncul tulisan Nopember 2005, ditahun itu 50 KK harus meninggalkan tempat ini dan menuju tempat baru yang lebih menjanjikan. Lokasi mandiri Bortetuk. Dan kini baru setahun ia merasakan kehilangan 50 anggota keluarga dan tinggal bersama sebelas anggota keluarga lainnya, ia harus merelakan dua anggota keluarga lainnya meninggalkan kamp itu ketika kalender yang ada, bertuliskan 18 Juli 2006 dan lagi-lagi Lokasi mandiri Bortetuk. Dulu kami 70 KK, setelah 50 KK pergi tahun lalu kami tinggal 11 KK dan sekarang setelah dua hari yang lalu (19/07) dua KK pergi tinggal sembilan KK dan kami merasakan seperti ayam yang kehilangan induknya, ujarnya lagi dengan mata masih tetap menerawang jauh, namun kali ini terlihat sedikit berkaca karena ada gumpalan air yang berada dalam mata itu. Dan kata itu terulang lagi “Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main Voli dan semua keluarga berkumpul disini”. Hari itu 21 Juli 2006 sekitar pukul 17.00 WITA, saya berkunjung ke lokasi itu dan menemui pria kelahiran 48 tahun lalu itu. Disana ia masih berkumpul dengan keluargannya yang lain dan masih menggunakan ruas jalan itu untuk berkumpul bersama dan tradisi lama masih terus mereka jalankan yaitu berkumpul di tempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran-lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Walaupun suasananya sudah berbeda karena tidak ada lagi anak-anak muda yang bermain voli. Hanya ada satu harapan yang ia ucapkan sambil matanya tetap menerawang Mudah-mudahan dengan adanya mereka memperoleh tempat yang baru bisa bertani dengan baik sehingga hidup lebih baik lagi. Dan bagi yang masih menetap disini kita harus tetap berusaha. (by theo & None)
|
Selamat Tinggal Benoka
media @ 5:30 AM
 ....Pergi dari sesuatu sudah pasti meninggalkan kenangan. Kenangan juga sudah pasti sulit terlupakan. Enam tahun di Benoka menyisakan banyak cerita. Kenangan biarlah tinggal kenangan apalagi demi suatu keputusan masa depan yang lebih baik.... Pernah saya bayangkan bagaimana perasaan saya jika tinggal di tanah yang bukan milik sendiri. Saya kemudian berkesimpulan bahwa hanya ada satu kata yaitu ketidakpastian. Hal yang sama juga dialami oleh tigapuluhan warga kamp Benoka yang dalam kurun waktu enam tahun lebih menetap di tanah milik orang lain. Beberapa warga kamp Benoka mengatakan bahwa ada perasaan was-was dalam hati mereka. Perasaan was-was jelas menimbulkan ketidaknyamanan. Akibatnya banyak hal dapat terganggu karenanya. Contoh paling sederhana misalnya adalah mereka selalu berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan tanah sendiri. Dengan munculnya pikiran seperti ini saja sudah bisa dipastikan bahwa ada beban berat yang cukup mengganjal. Padahal menurut cerita yang saya dengar dari beberapa orang dulunya sewaktu masih di daerah asal di Ermera tiap orang rata-rata memiliki tanah yang luas. Untuk bercocok tanam tidaklah sulit. Di Benoka warga yang rata-rata berprofesi sebagai petani bahkan harus menempuh jarak tiga kilometer arah timur untuk bisa sampai dikebun yang tanahnya juga milik orang lain. Mereka hanya diijinkan untuk megolah saja untuk sementara. Selain berkebun beberapa warga ketika di Benoka mencoba mencari alternatif pekerjaan lain untuk bisa mendapatkan uang. Bekerja di proyek-proyek fisik sebagai buruh misalnya. Selain itu ada juga yang mencoba bergerak di bidang jasa transportasi ojek. Ketika saya beberapa waktu mengamati daerah Benoka saya berpendapat bahwa daerah itu memang sempit. Dibagian timur pemukiman terdapat semacam kubangan besar yang berlumpur. Beberapa WC cemplung dibangun di pinggir bagian barat. Di kubangan itu juga sepertinya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah. Lebar kubangan kira-kira lima sampai enam meter. Di ujung timur kubangan terdapat rerimbunan semak dan tertancap banyak salib dari kayu. Setelah saya bertanya ternyata itu adalah tempat dikuburkannya sanak keluarga warga kamp Benoka yang telah meninggal. Bentuk dan bahan rumah warga Benoka juga seragam. Sebelum dibongkar ketika pindah saya melihat semua rumah yang dibangun dindingnya berasal dari bebak dan beratap seng serta desainnya juga sama yakni model dua air. Menurut teman saya Wendy model tersebut sama seperti model rumah mereka dulu ketika masih di Timor-Timur. Benoka jelas menyimpan banyak kenangan bagi warga kamp yang pindah. Banyak cerita suka dan duka yang terjadi disana. Dulu sebelum kami masuk ke Benoka ada banyak pencuri yang berkeliaran. Tapi setelah kami masuk kesitu pencuri tidak berani lagi datang kata Moge, teman saya yang juga merupakan tokoh masyarakat di kamp itu. Memang diceritakan oleh Moge sempat ada pencuri yang coba-coba mendatangi rumh mereka pada malam hari. Mereka kemudian mengetahui dan mengejarnya sampai ke kali di bagian tenggara pemukiman mereka. Sayangnya saat itu pencuri yang dikejar berhasil lolos. Menurut Moge jika saja pencuri itu tertangkap tentu akan cukup besar penderitaan yang dialami. Saya juga melihat di sekitar pemukiman terdapat beberapa rumpun bambu. Menurut Moge bambu-bambu itu ditanam oleh warga kamp saat mereka belum lama tinggal di Benoka. Kini tanaman itu sudah besar dan tinggi. Umurnya juga sama seperti lamanya waktu mereka tinggal. Namun ketika pindah hanya beberapa batang saja yang di tebang. Ketika saya bertanya kenapa tidak ditebang semuannya, menurut mereka alasannya karena yang lain akan ditinggalkan bagi para pemilik tanah. Pada saat hari pemindahan, tepat pukul 18.20 wita saya kembali memandang sekitar di tempat itu. Kosong dan terasa terbuka sekali. Hanya tinggal satu keluarga saja yang barang-barangnya sedang di angkut. Beberapa warga lokal hadir juga menyaksikan kesibukan hari itu. Hari berkesan bagi 36 kepala keluarga. Hari dimana mereka pergi dari tempat yang berkesan menuju tempat baru yang lebih menjanjikan. Daniel&Wendy (Relawan Kamp Atambua Sektor A)
|
KOMITMEN
media @ 4:25 AM
(Catatan Refleksi Kerelawanan) Ada masalah baru lagi di antara relawan informasi komunitas kamp Tuapukan. Setelah hengkangnya Olga dan Oland secara sepihak. sekarang kami harus kehilangan satu lagi teman kami, shanty. Kemunduran Shanty sempat pula menimbulkan pertanyaan baru, .....apakah teman-teman relawan RIK yang lain masih komit atau akan mengikuti pilihan shanty, Oland dan Olga untuk keluar dari kegiatan kerelawanan ini? Pernyataan yang saya dan Meity terima dari mama shanty sangat menyakitkan .....Shanty beta sonde kasi lagi jadi RIK, karena kalian (RIK) yang bagi koran yang dapat maki dan marah dari orang-orang kamp sedangkan mereka (relawan CIS) hanya tidur-tiduran saja dan dapat gaji....... Padahal itu khan tidak benar mereka juga bersama-sama mendampingi kita dan komunitas setiap saat dibutuhkan. Sebenarnya kekuatiran yang ditakutkan pada saat pertama kali kami direkrut jadi relawan RIK adalah bukan hanya kita takut tidak dapat dipercaya dan diterima oleh masyarakat kamp tapi kita secara pribadi tidak dapat bertahan dengan pekerjaan yang hanya bersifat relawan atau pekerjaan tanpa gaji/imbalan ini. Terkadang seseorang akan mengatakan bahwa ....saya akan tetap komit apapun resikonya..... tapi dalam prakteknya nol besar. Sebaiknya kata ......saya akan tetap ko mit...... itu tidak usah diucapkan tapi bagaimana cara kita mewujudkan kata komitmen itu dengan kerja nyata. Dengan cara seperti itu maka dengan sendirinya kata komitmen itu sudah tertanam dalam diri kita. Satu lagi pelajaran yang saya petik dari tindakan teman-teman relawan adalah, kita harus punya pilihan sendiri selama pilihan kita bersifat positif. IMBALAN, sepertinya kata itu yang selama ini masih melekat erat dalam pikiran orang tua kita sekarang. Sehingga apapun yang akan kita lakukan harus ada imbalannya, dalam hal ini uang. Sebanarnya bukan hal imbalan yang harus kita prioritaskan dalam setiap pekerjaan atau setiap kegiatan yang akan kita lakukan, tapi bagaimana kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dan mengetahui banyak hal lain di sekitar kita dan menjadikan itu pelajaran baru bagi kita. ...Relawan..., kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, tapi apa yang dikerjakan oleh seorang relawan kita tidak pernah tahu dan tidak akan pernah tahu apabila kita tidak pernah ingin tahu tentang relawan dan terjun langsung ke dunia kerelawanan. Rela, tegar, sabar, mau belajar dan selalu bersemangat adalah kunci utama yang harus dimiliki oleh seorang relawan, tanpa itu kita seperti tidak punya kekuatan dan pendirian untuk menjalankan tugas sebagai seorang relawan. Lan (Relawan Informasi Tuapukan)
|
|