![]() |
|
|
KISAH BERTO
Waktu itu sekitar pukul empat dini hari, Senin 18 Oktober 2004 suara tangis bayi memecah keheningan kamp Naibonat. Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat dan utuh dari rahim Idina Senyum bahagia dan ucap syukur dari semua keluarga tergambar dalam kekaguman terhadap kebesaran Tuhan. Bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Roberto Cardozo. Roberto lahir dan berbahagia karena memiliki banyak keluarga. Bapaknya bernama Selviano Cardozo, 22 tahun dan mamanya bernama Idina Soares, 18 tahun. Ia juga mempunyai seorang kakak laki-laki yang berusia 4 tahun, ia mempunyai nenek dan kakek dari ayah juga kakek dari ibu. Bukan cuma itu ia juga punya tante dan om, keluarga dari orang tuanya. Roberto dan orang tuanya tinggal di rumah kakeknya dan rumah itu terletak berdekatan dengan rumah keluarga besarnya. Maklumlah kondisi rumah di kamp memang dibangun berdekatan dan selalu berkelompok sesuai garis keturunan atau sejarah satu desa, kecamatan atau kabupaten. Keluarga Roberto sendiri berasal dari Timor-Timur (sekarang RDTL) tepatnya Kabupaten Manatuto, kecamatan Laklubar dan sejak tahun 1999 hingga kini telah menghuni kamp Naibonat bersama ribuan pengungsi lainnya. Orang rumah sering menyapa Roberto dengan panggilan Berto. Hari terus berlalu dan satu tahun telah lewat.
Bertopun berusia satu tahun. Mamanya bilang dia sudah bisa duduk kuat (duduk dengan posisi tegap-red), suka bermain dan sehat. Tapi kondisi itu tidaklah lama, memasuki akhir Januari 2006, kondisi kesehatan Berto mulai menurun. Tubuhnya terserang demam tinggi, batuk dan sering mencret. Kadang-kadang ia juga menderita sesak napas yang sangat berat. Sejak itu Berto sering menangis dan berat badannya mulai menurun dari 8, 5 kg menjadi 6,5 kg dalam kurun waktu hanya 1 bulan. Memasuki bulan Maret berat badan itu tidak pernah bertambah. Kondisi Berto semakin memburuk dari hari ke hari, panas tubuhnya tidak pernah turun dan keseringan batuk membuatnya sangat menderita. Orang tua terpaksa harus membawanya ke puskesmas Oesao, puskesmas terdekat di tempat itu. Namun petugas puskesmas ternyata tidak banyak membantu, walaupun sudah tiga kali Berto dibawa ke sana. Ia hanya dikasih obat turun panas dan obat batuk, tapi kondisi anak itu tak kunjung membaik. Rumah Sakit - Rumah Sakti
Selasa, 14 Maret 2006, lewat Eva (salah satu Relawan Informasi Komunitas-RIK di kamp Naibonat; orang tua Berto membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum W.Z Yohanes Kupang. Eva berjuang keras meyakinkan orang tua Berto, yang pada saat itu merasa tidak yakin dengan keadaan keuangan mereka. Selviano dan Idina tidak punya pekerjaan yang berpenghasilan tetap.
Mereka takut dengan biaya rumah sakit yang tentu mahal bagi orang kecil seperti mereka. Mereka juga bingung karena tidak tahu letak rumah sakit dan bagaimana urusan di sana. Tapi Eva menjamin, bahwa ia akan melakukan apapun asal Berto bisa mendapat perawatan rumah sakit yang tentu lebih canggih dari puskesmas. Usaha Eva berhasil, Selviano akan berupaya pinjam uang di keluarga, dan Idinapun menjadi mantap hatinya. Eva membuktikan janjinya; ia berusaha keras bolak-balik Naibonat-rumah sakit dengan angkot pakai uangnya sendiri untuk mengantar Berto dan orang tuanya, mengurus registrasi perawatan, mengurus surat keterangan tidak mampu dari kelurahan sampai kecamatan, menelepon posko Cis untuk mensuplai makanan dan mendatangi apotik untuk menukar resep obat. Semua hal itu ia lakukan walaupun hujan deras mengguyur kota, hingga akhirnya ia terserang demam tinggi, tapi dasar relawan! Eva tetap melakukan tugasnya, jarak Naibonat ke rumah sakit yang sekitar 45 km, dijangkaunya hampir setiap hari tanpa keluhan demi Berto. Berto menghuni Ruangan Anak Kelas III, ia langsung diopname dan diberi infus. Bersamanya ada 6 anak lain yang juga dirawat disitu. Karena pengurusan surat keterangan tidak mampu masih terhambat dengan tanda tangan camat, terpaksa untuk hari pertama orang tua Berto harus membayar infus dan obat-obatan. Mereka membayar Rp 83.000,- Untunglah pada hari kedua urusan itu dapat selesai dan perawatan Berto bisa berjalan tanpa pungutan biaya. Berto Masih Berjuang
kalaupun ada hanya sedikit terlihat. Pandangan anak itu terus terarah ke atas dan perutnya yang buncit menjadi keras jika ditekan. Idina, Nina dan orang tua pasien lain dalam ruangan itu panik dan langsung memanggil perawat. Dua orang perawat segara datang dan langsung memberikan bantuan nafas dengan tabung oksigen. Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa. Idina bingung, ia bertanya pada saya Berto sakit apa? Kenapa jadi begini? saya tidak memberi jawaban, selain memintanya tetap berdoa dan menunggu hasil pemeriksaan dokter. Waktu itu Idina sangat kuatir kalau-kalau ada apa-apa dengan Berto, apa lagi sang suami tidak berada disampingnya. Sejak hari itu tabung oksigen, selang makanan, dan infus menjadi alat kehidupan bagi Berto. Namun sesekali ada saat dimana Berto terlihat normal, ia tersenyum sambil menggerakkan kaki dan meminta makan pakai mulut. Idina dan Nina senang melihatnya. Hari Minggu, 26 Maret 2006 saya bersama Ruslan salah satu RIK dari kamp Tuapukan, mengantarkan makanan untuk Idina dan Nina. Sekitar jam satu siang kami tiba di ruangan Berto. Berto sedang koma dan Idina tertidur pulas disampingnya. Ada buku Madah Bhakti (buku pujian umat Katolik) tergeletak di sebelah bantal di atas temapat tidur. Nina membangunkan Idina dan Idinapun bangun dari tidurnya dan langsung berbicara kepada kami. Kemaring dokter bilang; Berto sakit radang otak dan TBC paru-paru. Ada virus dari paru-paru yang masuk di otak, kakak liat dia pung kepala belakang su bangka (bengkak-red), diapung telinga juga, kata Idina dengan suara lemas. Ia juga menunjukan kepada kami pamflet yang dikeluarkan oleh Poli Tekhnik Kesehatan jurusan Keperawatan yang berjudul Radang Pada Otak Dapat Mengganggu Tumbuh Kembang Anak. Isi pamflet itu cukup lengkap mengenai informasi tentang radang otak dengan ciri-ciri dan pencegahannya.Idina bilang pamflet itu diterimanya kemarin dari perawat. Kami berbincang-bincang cukup lama, dari isi pamflet sampai sejarah kisah kasihnya dengan Selviano, terkadang perempuan itu tertawa dan terlihat malu, apalagi ketika ia sadar kalau ia tidak pernah tahu kapan suaminya berulang tahun. Di sela-sela pembicaraan kami, saya meminta Idina bercerita tentang saat-saat ia mengandung Berto. Idina bilang, usia kandungannya sampai melahirkan; normal, sembilan bulan tiga hari. Waktu hamil, ia juga menyempatkan diri memeriksakan kandungannya ke puskesmas sebanyak tiga kali. Bidan bilang; saya ini tidak ada darah. Bidan juga suruh saya harus banyak makan telur dan sayur, kata Idina dengan mata menerawang. Idina juga bilang bapaknya baru meninggal bulan sepuluh lalu karena sakit TBC. Ia menambahkan mungkin Berto kena TBC dari bapak, karena bapak sering menggendong Berto jika Idina sedang sibuk masak atau cuci. Seorang perawat datang dan tersenyum pada kami, ia meminta ijin sebentar untuk memasukan susu ke dalam selang makanan yang dihidung Berto. Berto menghirup makanan itu dan matanya sedikit terbuka seolah-olah ingin menyapa kami, kemudian matanya kembali tertutup. Dokter bilang ; mungkin Berto masih harus tinggal dua bulan lagi di sini, lanjut Idina, saya hanya tersenyum dan berkata : katong samua sabar sa! dan kembali mengingatkannya untuk tidak boleh meragukan keberadaan Tuhan dalam situasi apa pun. Sudah hampir 2 minggu Berto dirawat dan ia sering mengalami koma, tapi kami semua tahu ia masih berjuang. oleh : Merry Djami (Relawan Kamp Kupang) Guru Lopez
Setiap kali ketika saya pergi ke Naibonat untuk melakukan tugas rutin di kamp pengungsian, saya pasti melewati tempat ini. Sekitar jam 10 pagi kalau melewati tempat ini yang nampak adalah anak-anak kecil yang mengenakan seragam putih merah yang lagi asyik bermain halaman sekolah yang cukup luas.Tempat itu adalah SD Inpres Naibonat. Sekolah ini tepat berada di depan kamp pengungsian Naibonat. Hanya jalan raya yang memisahkan keduanya. Hampir sebagian besar sahabat-sahabat kecil saya yang adalah warga eks pengungsi Tim-tim menimba ilmu di sekolah ini. Jumlah mereka 1.339 orang dari jumlah siswa 1502 orang. Melihat perbandingan jumlah ini berarti anak-anak lokal yang bersekolah ditempat ini hanya 163 orang saja. Dengan jumlah siswa yang demikian banyaknya, mereka hanya dilayani oleh 30 orang guru. Pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya bagaimana cara yang dipakai oleh para guru-guru untuk mengajar di kelasnya masing-masing. Setiap kelas muridnya sekitar 54-83 orang anak. Satu meja dan bangku bisa dipakai oleh tiga sampai lima orang anak. Kalau saya yang jadi gurunya pasti sudah angkat bendera putih...menyerah. memang cukup cape juga tapi mau bilang apa lai, ini sudah kewajiban kami, negara sudah bayar kami. Kata ibu Lopez, guru kelas satu yang muridnya berjumlah 80 orang. Saya mendapat cerita menarik dari ibu Lopez bahwa setiap harinya dia harus memegang tangan 10 orang anak untuk membimbingnya menulis. Hal ini harus dilakukannya setiap hari dan terus bergilir sampai semua anak bisa menulis atau paling tidak bisa memegang pensil dengan baik. Sungguh melelahkan... Saya adalah orang yang cepat jenuh jika menekuni satu pekerjaan. Pengalaman ibu Lopez, menjadi bahan refleksi tersendiri buat saya, bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna sangat diperlukan kerja keras, ketekunan dan tidak lupa bersyukur dengan apa yang sudah diperoleh... None Dangu Perempuan Muda Dalam Tim
Salah satu cara yang ditempuh pemerintah untuk menyelesaikan masalah pengungsian Timor-Timur yang sampai sekarang masih menetap di Timor Barat yaitu dengan memberikan bantuan BBR (Bahan Bangunan Runah) dan Dana Terminasi. Dengan harapan bantuan yang diberikan ini paling tidak dapat menolong saudara-saudara eks pengungsi yang masih pilih untuk menetap di kamp-kamp pengungsian. Untuk BBR bukan yang pertama kali diberikan sepanjang hampir enam tahun mengungsi ke Timor Barat. Dalam kenyataannya tidak semua keluarga yang menerima bantuan ini memanfaatkan secara baik yaitu dengan keluar dari kamp dan membangun kehidupan baru di luar kamp pengungsian.Tahun ini Dana Terminasi dan BBR datang lagi.....!!!!!Terpilih menjadi salah satu anggota tim seleksi BBR dan Terminasi adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, Sally dan Iren. Tergabung dalam tim ini merupakan kesempatan yang kami tunggu-tunggu, paling tidak kehadiran kami bisa memastikan bahwa para calon penerima adalah keluarga-keluarga yang terseleksi dan ingin menata masa depan dengan lebih baik.Tim ini terdiri dari berbagai unsur- Unsur pemerintahan, TNI/POLRI, para koordinator kamp maupun LSM. Semuanya berjumlah 17 orang. Keterwakilan unsur di tim kali ini adalah dengan komitmen untuk membuat proses seleksi kali ini lebih baik dari yang sebelumnya.Diantara anggota tim seleksi, saya, Sally dan Iren adalah perempuan dan merupakan anggota yang paling muda. Perempuan dan yang paling muda adalah dua hal yang kadang-kadang tidak membuat kami cukup didengar dalam tim.Tapi hal ini tidak menyurutkan komitmen awal kami untuk tetap berpegang pada kriteria sebagai acuan kerja kami yang walaupun harus berbeda pendapat dengan anggota tim yang lain.Proses awal seleksi, kami bertiga sangat menikmatinya karena kelihatannya semua anggota tim berusaha untuk menunjukkan performancenya yang baik.Hal ini tidak berlangsung lama. Memasuki hari kedua, masing-masing mulai berupaya membelokkan kriteria yang ada dengan berbagai KEPENTINGAN.Situasi ini sungguh sangat bertentangan dengan hati nurani kami. Kami harus bekerja dengan orang-orang yang mudah plin-plan hanya karena kepentingan yang tidak jelas latar belakangnya ditambah dengan adanya ancaman-ancaman verbal yang cukup membuat hati panas dan telinga memerah.Hari-hari seleksi berikutnya kami jalani dengan kejenuhan karena kelihatannya kami dianggap sebagai musuh atau orang yang cukup membuat anggota tim yang lain kepala sakit karena ketegasan kami untuk berpegang pada kriteria yang ada dan cenderung tidak mau diajak kompromi.Bagian paling parah dari proses ini adalah ketika pada tanggal 25 Januari 2006, Sally dan Iren diancam bahkan hampir dipukuli oleh Armindo Soares, warga eks pengungsi Timor-Timur yang tinggal di kamp Tuapukan. Dia merasa kecewa dan sakit hati karena ketegasan kami. Cukup banyak makian yang kami terima dari proses ini.Untuk mengantisipasi kekerasan susulan yang bakalan akan menimpa kami lagi, akhirnya Om Winston Rondo, sebagai koordinator umum memutuskan untuk kami segera keluar dari tim seleksi dan tidak bertanggungjawab untuk semua keputusan yang ada.By None Dangu |
CIS Timor web counter |