|
Tiga Perempuan Pejuang Hidup
media @ 9:22 PM
Sebuah kisah kemandirian sosok perempuan di kamp pengungsian, berjuang melawan kerasnya kehidupan tanpa kenal putus asa Elisabeth Namok, belum genap 30 tahun. Tidak terlalu tinggi sekitar 150-an sentimeter, gemuk, berambut ikal. Oleh anak-anak asuhnya akrab dipanggil ma Elis. Ini kali kedua saya bertemu dia. Pertama saat pelatihan Relawan Informasi Komunitas (RIK)di Emaus-Nenuk, akhir Nopember setahun yang lalu. Ia bersedia menjadi RIK di kamp Weraihenek hingga saat ini. Orangnya cerewet, supel, enak diajak diskusi.
Sekarang ini, ada sembilan anak yang di asuh, kata Elis menunjuk kumpulan anak kecil di hadapan kami. Dari kesembilan anak yang diasuhnya itu, cuman dua anak yang belum sekolah, masih kecil. Sedang tujuh lainnya sudah, dua di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), satu di SMP dan empat lainya masih di bangku Sekolah Dasar (SD). Kami ada tiga orang yang urus ini anak dong…Saya, ma Eny dengan ma Ela. Elis Namok, berasal dari Dafala-Wedomu. Eny Mooy dari Rote, sedangkan Ela atau Angelina Bui adalah sepupu Elis. Ketiganya sama-sama bekerja di Dili dan mengungsi ke Atambua setelah konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur pada 1999 lalu. Impian dan hasil kerja keras kami selama di Dili, hilang tak berbekas saat kerusuhan pasca jajak pendapat 1999 di Timor Timur. Kami lari datang hanya bawa pakaian satu lemari, VCD (Video Compact Disc player), dengan sepeda motor supra fit satu, ujarnya. Bulan Oktober 1999 itu baru kami mulai tinggal di kamp Weraihenek, ungkap Elis. Sejak itulah, Elis, Eny dan Ela memulai usaha kios kecil mereka. Modal awalnya itu 250 ribu sa, Kata Elis. Dari waktu ke waktu, modal awal 250 ribu rupiah ditambah sedikit pengalaman dan ilmu wira usaha Elis dan Eny, usaha mereka kian berkembang. Kini telah mempunyai dua kios kecil di Weraihenek dan di samping stadion Haliwen. Setiap harinya, mendapatkan penghasilan kotor sebesar 50 ribu rupiah per kios. HAsilnya untuk lanjutkan usaha dan biayai anak yang kami asuh.
Dari tahun 1999 hingga kini sudah sembilan anak yang berada dalam asuhan mereka. Semuanya masih mempunyai pertalian saudara dengan tiga perempuan tangguh ini. Kami ini maunya bukan hanya anak saudara saja yang kami tolong tapi anak orang lain juga, kata Elis. Masalahnya orang belum percaya kita e…orang kira kita mau rampas dong pung anak, jadi ya kami mulai dulu dengan saudara pung anak, timpal Eny menjelaskan. Padahal menurut Elis, tujuan mereka murni ingin membantu anak-anak untuk bisa bersekolah. Kami paling bisa bantu itu sampai SMA, itu juga kalo banyak orang mungkin agak berat. Paling tamat SMP-lah, ujar Elis. Rasanya tidak tega kalo lihat ada anak yang putus sekolah, sambung Eny. Kami bilang ke orang tua mereka, kalo kesulitan biaya sekolah anak, mari ko kita duduk sama-sama pikir jalan keluarnya, lagi kata Elis. Oleh karena itu, mereka hanya mau menampung dan mengasuh anak-anak yang sudah mendapat persetujuan dari para orang tua. Syarat utamanya sangat sederhana, Yang penting itu anak mau sekolah, ujar Eny. Kalo tidak mau sekolah, kami tolak, tegas Elis. Orang tua kandung anak-anak ini, semuanya masih lengkap. Ada yang pi jadi TKI di Malaysia sana. Yang lain, orang tuanya di Kupang, jelas Elis. Itu ada satu dari Baumata sana (279 km dari Atambua). Elsa tu, sekarang dia su kelas dua SMA, celetuk Eny, sambil menunjuk seorang gadis remaja yang tersenyum malu, duduk di sebelah kanan tak jauh dari Elis dan Eny. Hubungan antara anak-anak ini dengan orang tua kandung mereka tetap terjalin, lewat kunjungan langsung maupun surat.
Selain membantu membiayai kebutuhan hidup dan sekolah anak-anak seperti biaya buku-buku hingga uang jajan dan transport, Elis, Eny dan Ela juga mendorong minat belajar anak sebisa mungkin. Terbukti dari tujuh anak yang sudah bersekolah, tiga yang prestasinya di sekolah bagus. Elsa Haumeni, saat ujian kenaikan kelas yang baru lewat, mendapat rangking dua. Yanto, kakak pertama, Melda, Maxi dan Idus juga selalu dalam sepuluh besar terbaik dikelasnya di SMP N I. Begitu juga dengan Melda di SD Katholik I, saat naik ke kelas enam belum lama ini mendapat juara II mengungguli teman-temannya yang kebanyakan anak keluarga mampu. Tak banyak yang diharapkan ketiga perempuan tangguh ini selain harapan akan masa depan yang baik bagi kesembilan anak asuhan mereka. Kami hanya bantu kasi sekolah sa, soal masa depan, ada di dong pung tangan sendiri e dan hanya harap supaya suatu saat, apapun yang dong pilih entah sekolah lanjut ka atau buka usaha, jangan bikin malu kami sebagai orang tua ini, Saat ini, keluarga besar ini sedang menanti waktu yang tepat untuk pindah ke lokasi baru, ke tanah mereka sendiri yang dibeli secara bersama dengan 82 keluarga lainnya di dusun Haliwen desa Kabuna. Elisabeth Namok termasuk salah satu yang mewakili kelompok perempuan dalam negosiasi lahan mandiri belum lama ini Elsa dan adik-adiknya termasuk anak-anak yang beruntung dibanding jutaan anak lain di Republik Tercinta ini yang kurang beruntung hingga ulang tahun ke 61 negeri ini, kehilangan kasih sayang orang tua akibat konflik, bencana alam bahkan menjadi korban perdagangan anak. Setidaknya, menurut saya, Elsa dan kedelapan adiknya masih bisa menikmati hak-hak mereka sebagai seorang anak manusia. By. Olkes Dadi Lado
|
|
CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang Nusa Tenggara Timur Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cis_timor@telkom.net
diari relawan
Kisah yang di tinggalkanSelamat Tinggal BenokaKOMITMENKISAH BERTORumah Sakit - Rumah SaktiBerto Masih BerjuangGuru LopezPerempuan Muda Dalam TimSurat dari Lapangan
October 2005March 2006August 2006September 2006October 2007January 2008
web counter
|