Selamat Tinggal Benoka
media @ 5:30 AM

....Pergi dari sesuatu sudah pasti meninggalkan kenangan. Kenangan juga sudah pasti sulit terlupakan. Enam tahun di Benoka menyisakan banyak cerita. Kenangan biarlah tinggal kenangan apalagi demi suatu keputusan masa depan yang lebih baik....

Pernah saya bayangkan bagaimana perasaan saya jika tinggal di tanah yang bukan milik sendiri. Saya kemudian berkesimpulan bahwa hanya ada satu kata yaitu ketidakpastian. Hal yang sama juga dialami oleh tigapuluhan warga kamp Benoka yang dalam kurun waktu enam tahun lebih menetap di tanah milik orang lain. Beberapa warga kamp Benoka mengatakan bahwa ada perasaan was-was dalam hati mereka. Perasaan was-was jelas menimbulkan ketidaknyamanan. Akibatnya banyak hal dapat terganggu karenanya. Contoh paling sederhana misalnya adalah mereka selalu berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan tanah sendiri. Dengan munculnya pikiran seperti ini saja sudah bisa dipastikan bahwa ada beban berat yang cukup mengganjal. Padahal menurut cerita yang saya dengar dari beberapa orang dulunya sewaktu masih di daerah asal di Ermera tiap orang rata-rata memiliki tanah yang luas. Untuk bercocok tanam tidaklah sulit. Di Benoka warga yang rata-rata berprofesi sebagai petani bahkan harus menempuh jarak tiga kilometer arah timur untuk bisa sampai dikebun yang tanahnya juga milik orang lain. Mereka hanya diijinkan untuk megolah saja untuk sementara.

Selain berkebun beberapa warga ketika di Benoka mencoba mencari alternatif pekerjaan lain untuk bisa mendapatkan uang. Bekerja di proyek-proyek fisik sebagai buruh misalnya. Selain itu ada juga yang mencoba bergerak di bidang jasa transportasi ojek.

Ketika saya beberapa waktu mengamati daerah Benoka saya berpendapat bahwa daerah itu memang sempit. Dibagian timur pemukiman terdapat semacam kubangan besar yang berlumpur. Beberapa WC cemplung dibangun di pinggir bagian barat. Di kubangan itu juga sepertinya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah. Lebar kubangan kira-kira lima sampai enam meter. Di ujung timur kubangan terdapat rerimbunan semak dan tertancap banyak salib dari kayu. Setelah saya bertanya ternyata itu adalah tempat dikuburkannya sanak keluarga warga kamp Benoka yang telah meninggal.

Bentuk dan bahan rumah warga Benoka juga seragam. Sebelum dibongkar ketika pindah saya melihat semua rumah yang dibangun dindingnya berasal dari bebak dan beratap seng serta desainnya juga sama yakni model dua air. Menurut teman saya Wendy model tersebut sama seperti model rumah mereka dulu ketika masih di Timor-Timur.

Benoka jelas menyimpan banyak kenangan bagi warga kamp yang pindah. Banyak cerita suka dan duka yang terjadi disana. Dulu sebelum kami masuk ke Benoka ada banyak pencuri yang berkeliaran. Tapi setelah kami masuk kesitu pencuri tidak berani lagi datang kata Moge, teman saya yang juga merupakan tokoh masyarakat di kamp itu. Memang diceritakan oleh Moge sempat ada pencuri yang coba-coba mendatangi rumh mereka pada malam hari. Mereka kemudian mengetahui dan mengejarnya sampai ke kali di bagian tenggara pemukiman mereka. Sayangnya saat itu pencuri yang dikejar berhasil lolos. Menurut Moge jika saja pencuri itu tertangkap tentu akan cukup besar penderitaan yang dialami.

Saya juga melihat di sekitar pemukiman terdapat beberapa rumpun bambu. Menurut Moge bambu-bambu itu ditanam oleh warga kamp saat mereka belum lama tinggal di Benoka. Kini tanaman itu sudah besar dan tinggi. Umurnya juga sama seperti lamanya waktu mereka tinggal. Namun ketika pindah hanya beberapa batang saja yang di tebang. Ketika saya bertanya kenapa tidak ditebang semuannya, menurut mereka alasannya karena yang lain akan ditinggalkan bagi para pemilik tanah.

Pada saat hari pemindahan, tepat pukul 18.20 wita saya kembali memandang sekitar di tempat itu. Kosong dan terasa terbuka sekali. Hanya tinggal satu keluarga saja yang barang-barangnya sedang di angkut. Beberapa warga lokal hadir juga menyaksikan kesibukan hari itu. Hari berkesan bagi 36 kepala keluarga. Hari dimana mereka pergi dari tempat yang berkesan menuju tempat baru yang lebih menjanjikan.
Daniel&Wendy
(Relawan Kamp Atambua Sektor A)


|

alamat kontak

CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cis_timor@telkom.net

Navigasi

diari relawan

10 tulisan terakhir

  • KOMITMEN
  • KISAH BERTO
  • Rumah Sakit - Rumah Sakti
  • Berto Masih Berjuang
  • Guru Lopez
  • Perempuan Muda Dalam Tim
  • Surat dari Lapangan
  • arsip tulisan

  • October 2005
  • March 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2007
  • January 2008
  • sapa kami

    # pengunjung

    web counter
    web counter
    Copyright ©2005 cis timor. All rights reserved | designed by : okke