![]() |
|
|
Kisah yang di tinggalkan
Kami dipersilahkan duduk ditempat yang masih kosong, dan ceritra awal dalam dua bahasapun dimulai. Saya dan none bersama dua orang laki-laki lainnya berceritra dalam bahasa Indonesia sedangkan mereka yang lain terus berceritra dalam bahasa itu. Derai air mata tidak dapat dibendung tatkala truk harus berangkat meningalkan lokasi itu. Dan itu berarti mereka harus meninggalkan tempat itu, meninggalkan kenangan yang sudah terjalin tujuh tahun lamanya, kenangan yang indah dalam ikatan keluarga besar kecamatan Bobonaro. Ia hanya bisa berucap dengan mata menerawang jauh. Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main Voli dan semua keluarga berkumpul disini. Lapangan voli yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami menjadi saksi bisu bagaimana suasana waktu dulu. Atau ruas jalan ini menjadi saksi ketika mentari mulai kembali ke peraduan dan warga berkumpul ditempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Namun semuanya itu tinggal kenangan Dan kini baru setahun ia merasakan kehilangan 50 anggota keluarga dan tinggal bersama sebelas anggota keluarga lainnya, ia harus merelakan dua anggota keluarga lainnya meninggalkan kamp itu ketika kalender yang ada, bertuliskan 18 Juli 2006 dan lagi-lagi Lokasi mandiri Bortetuk. Dulu kami 70 KK, setelah 50 KK pergi tahun lalu kami tinggal 11 KK dan sekarang setelah dua hari yang lalu (19/07) dua KK pergi tinggal sembilan KK dan kami merasakan seperti ayam yang kehilangan induknya, ujarnya lagi dengan mata masih tetap menerawang jauh, namun kali ini terlihat sedikit berkaca karena ada gumpalan air yang berada dalam mata itu. Dan kata itu terulang lagi “Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main Voli dan semua keluarga berkumpul disini”. Hari itu 21 Juli 2006 sekitar pukul 17.00 WITA, saya berkunjung ke lokasi itu dan menemui pria kelahiran 48 tahun lalu itu. Disana ia masih berkumpul dengan keluargannya yang lain dan masih menggunakan ruas jalan itu untuk berkumpul bersama dan tradisi lama masih terus mereka jalankan yaitu berkumpul di tempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran-lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Walaupun suasananya sudah berbeda karena tidak ada lagi anak-anak muda yang bermain voli.
|
CIS Timor web counter |